Lompat ke konten utama
Kanafin Chat via WhatsApp
Semua artikel

Arus kas 3 menit baca

Usaha yang Tutup Bukan karena Rugi, Tapi karena Kehabisan Kas

Cerita rekaan tentang konveksi kecil yang mendapat pesanan besar dan menguntungkan, lalu tutup sebelum pembayarannya masuk.

Cerita di bawah ini rekaan. Konveksinya tidak ada dan angkanya dibuat untuk contoh, tapi polanya bisa menimpa usaha kecil mana pun yang menerima pesanan jauh lebih besar dari biasanya tanpa menghitung kasnya lebih dulu.

Pesanan yang terlihat seperti rezeki besar

Sebuah konveksi kecil dengan delapan penjahit biasanya mengerjakan pesanan kaus dan seragam dari sekolah, komunitas, dan toko online. Omzetnya stabil, sekitar Rp 60.000.000 per bulan, dan kasnya rata-rata Rp 80.000.000.

Suatu hari datang tawaran dari sebuah perusahaan: seragam untuk seluruh karyawannya, nilainya Rp 300.000.000. Biayanya dihitung dengan teliti:

Biaya pesananJumlah
KainRp 150.000.000
Upah jahit tambahanRp 60.000.000
Aksesoris, sablon, kemasanRp 20.000.000
Total biayaRp 230.000.000

Laba dari satu pesanan ini Rp 70.000.000, lebih dari laba konveksi itu dalam beberapa bulan biasa. Syaratnya, barang dikirim dalam tiga bulan dan dibayar penuh 60 hari setelah barang diterima. Tidak ada uang muka. Pemiliknya setuju.

Uang keluar lebih dulu, dan jauh lebih cepat

Selama tiga bulan pengerjaan, semua mesin dipakai untuk pesanan ini. Pesanan kecil yang biasanya menghidupi konveksi terpaksa ditolak, jadi pemasukan rutin hampir berhenti. Biaya tetapnya tetap jalan, sekitar Rp 20.000.000 per bulan untuk sewa, gaji penjahit tetap, dan listrik.

Dalam tiga bulan itu, uang yang harus keluar adalah Rp 230.000.000 untuk pesanan dan Rp 60.000.000 untuk biaya tetap. Totalnya Rp 290.000.000. Kas yang ada hanya Rp 80.000.000.

Kekurangannya ditutup dengan dua cara. Pemasok kain mau memberi tempo untuk Rp 60.000.000. Sisanya, Rp 150.000.000, dipinjam dari beberapa sumber dengan jangka pendek, karena pemiliknya yakin akan segera dibayar.

Barang selesai tepat waktu dan pelanggannya puas. Di atas kertas, ini kuartal terbaik konveksi itu.

Pembayaran yang terlambat

Di hari ke-60, pembayaran tidak datang. Bagian keuangan perusahaan itu bilang tagihannya masih dalam proses persetujuan, mungkin satu atau dua bulan lagi. Tidak ada yang curang. Perusahaan besar memang sering punya proses pembayaran yang panjang, dan konveksi kecil tidak punya posisi untuk memaksa.

Sementara itu, tempo dari pemasok kain sudah habis. Cicilan pinjaman jatuh tempo. Pemasok berhenti mengirim kain sampai utang lama dibayar, sehingga konveksi tidak bisa menerima pesanan baru walaupun pelanggan lama mulai kembali. Gaji penjahit telat dua kali, dan beberapa penjahit terbaik pindah ke tempat lain.

Pemiliknya menjual dua mesin untuk membayar sebagian utang. Dengan mesin dan penjahit yang berkurang, kapasitasnya turun, dan pemasukan rutin tidak pernah pulih ke angka semula. Beberapa bulan kemudian, konveksi itu tutup.

Pembayaran Rp 300.000.000 akhirnya masuk sekitar dua bulan setelah jatuh tempo. Jumlahnya cukup untuk melunasi semua utang, tapi usahanya sudah terlanjur tutup.

Yang bisa dilakukan berbeda

Pesanannya sendiri menguntungkan, dan labanya memang ada. Konveksi itu tutup karena jarak antara uang keluar dan uang masuk terlalu panjang, dan tidak ada cadangan untuk menanggung keterlambatan.

Ceritanya bisa lain kalau pemiliknya melakukan salah satu dari ini:

  • Meminta uang muka, misalnya 30% sampai 50%, untuk menutup pembelian kain. Banyak pelanggan perusahaan bisa menerimanya kalau disampaikan sejak awal.
  • Meminta pembayaran bertahap per pengiriman, bukan sekaligus di akhir.
  • Tetap menyisakan kapasitas untuk pelanggan rutin, supaya pemasukan harian tidak berhenti total.
  • Menghitung kebutuhan kas per minggu sebelum menyetujui pesanan, termasuk skenario kalau pembayaran terlambat dua bulan.
  • Mengatur pinjaman modal kerja dengan jangka waktu yang lebih panjang dari tempo pembayaran pelanggan.

Pemilik konveksi itu sudah menghitung apakah pesanannya untung, dan hitungannya benar. Yang tidak ia hitung adalah apakah kasnya cukup untuk bertahan sampai pesanan itu dibayar, apalagi kalau pembayarannya terlambat.

Anda urus usahanya, kami urus pembukuannya

Mulai dari Rp 2 juta per bulan, kontrak bulanan.

Chat via WhatsApp