Lompat ke konten utama
Kanafin Chat via WhatsApp
Semua artikel

Arus kas 3 menit baca

Kapan Menahan Belanja dan Kapan Justru Harus Investasi

Cara menimbang pembelian besar untuk usaha dengan melihat sisa kas, masa balik modal, dan bukti bahwa pelanggan memang membutuhkannya.

Sebagian pemilik usaha menunda pembelian yang jelas akan menambah penjualan karena terlalu hati-hati. Sebagian lain membeli terlalu cepat, lalu bingung membayar gaji dua bulan kemudian. Keputusannya lebih gampang kalau setiap kali mau belanja besar, Anda mengajukan pertanyaan yang sama ke diri sendiri.

Lihat sisa kas setelah belanja

Sebelum menilai barangnya, hitung dulu berapa uang yang tersisa setelah Anda membelinya.

Misalnya toko bahan kue punya saldo Rp 90.000.000 dan biaya tetap Rp 25.000.000 per bulan. Pemiliknya ingin membeli lemari pendingin Rp 15.000.000 supaya bisa menjual mentega dan krim. Setelah membeli, saldonya Rp 75.000.000, masih tiga bulan biaya tetap. Pembelian ini aman dari sisi kas.

Kalau saldonya hanya Rp 40.000.000, situasinya lain. Setelah membeli, tersisa Rp 25.000.000, cuma satu bulan biaya tetap. Satu bulan penjualan yang lesu atau satu pelanggan besar yang telat bayar sudah cukup untuk membuat toko kesulitan.

Patokan yang mudah dipakai: jangan belanja besar kalau sisa kas sesudahnya di bawah target dana darurat Anda. Kalau barangnya memang perlu, cari cara bayar lain, seperti cicilan atau sewa, supaya uang tidak keluar sekaligus.

Hitung berapa lama balik modal

Pembelian yang baik menghasilkan uang lagi. Coba perkirakan berapa tambahan laba per bulan dari pembelian itu, lalu bagi harga belinya dengan angka tersebut.

Kembali ke lemari pendingin tadi. Kalau penjualan mentega dan krim menambah laba bersih sekitar Rp 1.500.000 per bulan, pendingin seharga Rp 15.000.000 akan balik modal dalam 10 bulan. Itu jauh lebih pendek dari umur pakainya, jadi pembelian ini masuk akal.

Sekarang bandingkan dengan renovasi tampilan toko senilai Rp 30.000.000 yang mungkin menambah laba Rp 500.000 per bulan. Butuh 60 bulan, atau lima tahun, untuk balik modal. Bisa jadi tetap perlu, tapi itu pembelian yang lebih lemah dan sebaiknya menunggu sampai kas lebih longgar.

Pakai perkiraan laba yang hati-hati. Soal penjualan dari barang baru, pemilik hampir selalu terlalu optimis.

Cari bukti permintaan dulu

Investasi paling aman adalah yang menjawab permintaan yang sudah ada. Kalau pelanggan sudah sering menanyakan mentega dan Anda terpaksa menolak karena tidak ada tempat menyimpan, itu bukti. Kalau Anda membeli pendingin karena berharap pelanggan akan datang, itu tebakan.

Beberapa tanda bahwa permintaan sudah ada:

  • Anda menolak pesanan karena kapasitas penuh, bukan sekali tapi berkali-kali.
  • Pelanggan menunggu terlalu lama dan sebagian pergi.
  • Stok barang tertentu sering habis sebelum jadwal belanja berikutnya.

Kalau belum ada bukti, coba versi kecilnya dulu. Sewa alat sebulan, titip barang di tempat lain, atau terima pesanan terbatas dengan sistem pre-order. Biayanya kecil, dan Anda mendapat angka penjualan yang nyata sebelum mengeluarkan uang besar.

Kapan sebaiknya menahan

Tahan belanja yang bisa ditunda kalau salah satu hal ini sedang terjadi: saldo terendah bulanan terus turun, piutang yang lewat jatuh tempo menumpuk, atau margin laba kotor menurun beberapa bulan berturut-turut. Dalam kondisi seperti itu, masalahnya ada di operasional, dan membeli peralatan baru tidak memperbaikinya.

Menahan bukan berarti berhenti sama sekali. Belanja yang menjaga usaha tetap jalan, seperti memperbaiki mesin utama yang rusak, tetap harus dilakukan. Yang ditunda adalah belanja untuk tumbuh.

Kapan justru harus berani

Menunda juga ada harganya. Kalau kasnya cukup, balik modalnya cepat, dan pelanggan memang sudah meminta, setiap bulan Anda tidak membeli adalah laba tambahan yang tidak masuk. Pelanggan yang sudah bertanya juga bisa pindah ke pesaing yang punya barangnya.

Anda tidak akan pernah yakin seratus persen. Kalau menunggu sampai yakin, pembelian itu biasanya tidak pernah terjadi.

Anda urus usahanya, kami urus pembukuannya

Mulai dari Rp 2 juta per bulan, kontrak bulanan.

Chat via WhatsApp