Arus kas 3 menit baca
Gaji Pemilik: Cara Menentukan Berapa yang Wajar
Cara menentukan gaji tetap untuk diri sendiri sebagai pemilik usaha, dan kenapa gaji itu perlu dipisahkan dari laba.
Pemilik usaha kecil jarang menggaji dirinya sendiri. Uang diambil dari kas usaha saat butuh, jumlahnya lain-lain setiap bulan. Akibatnya pemilik tidak tahu apakah usahanya benar-benar untung, dan kas sulit direncanakan karena ada pengeluaran besar yang datang kapan saja.
Menetapkan gaji tetap untuk diri sendiri membereskan keduanya.
Mulai dari harga pasar pekerjaan Anda
Coba tanya diri sendiri: kalau besok Anda harus menggaji orang lain untuk mengerjakan tugas Anda sehari-hari, berapa yang harus Anda bayar?
Pemilik kedai kopi yang setiap hari mengatur jadwal karyawan, belanja bahan, melayani pelanggan, dan mengurus media sosial sedang mengerjakan tugas manajer kedai. Kalau manajer kedai di kotanya digaji sekitar Rp 6.000.000, angka itu titik awal yang masuk akal untuk gaji pemiliknya.
Angka pasar ini penting karena memisahkan dua hal yang sering tercampur: imbalan untuk bekerja dan imbalan untuk memiliki usaha. Gaji adalah bayaran untuk pekerjaan Anda. Laba yang tersisa setelah semua biaya, termasuk gaji Anda, adalah imbalan sebagai pemilik.
Sesuaikan dengan kemampuan usaha
Angka pasar belum tentu bisa langsung dibayar. Lihat rata-rata laba usaha selama beberapa bulan terakhir, dihitung sebelum ada uang yang Anda ambil.
Misalnya kedai kopi tadi rata-rata menghasilkan Rp 12.000.000 per bulan sebelum gaji pemilik. Dengan gaji Rp 6.000.000, masih tersisa laba Rp 6.000.000. Sebagian bisa ditahan di usaha untuk dana darurat dan pembelian peralatan, sebagian lagi bisa Anda ambil sebagai bagi laba di akhir periode.
Kalau rata-rata labanya hanya Rp 5.000.000, gaji Rp 6.000.000 berarti usaha rugi Rp 1.000.000 setiap bulan. Dalam kondisi itu ada dua pilihan yang jujur. Anda bisa menggaji diri sendiri di bawah harga pasar untuk sementara, sambil sadar bahwa selisihnya adalah modal yang Anda tanam. Atau Anda perlu menerima bahwa usaha ini belum menghasilkan cukup untuk membayar pemiliknya, dan memikirkan apa yang harus diubah.
Jangan pakai bulan terbaik sebagai patokan. Pakai rata-rata, atau bahkan bulan yang agak sepi, supaya gaji tetap bisa dibayar sepanjang tahun.
Bayar dengan jadwal dan jumlah tetap
Setelah angkanya ditentukan, perlakukan seperti gaji karyawan. Tanggal yang sama setiap bulan, jumlah yang sama, ditransfer ke rekening pribadi Anda. Kebutuhan rumah tangga dibayar dari rekening pribadi itu, bukan langsung dari rekening usaha.
Dengan begitu kas usaha bisa direncanakan, karena gaji pemilik sudah jadi pengeluaran yang terjadwal. Belanja rumah tangga juga tidak lagi bercampur dengan pengeluaran usaha, jadi angka laba di catatan Anda lebih bisa dipercaya.
Kalau ada kebutuhan pribadi mendadak dan Anda mengambil uang di luar gaji, catat sebagai pengambilan pemilik, terpisah dari gaji.
Bentuk usaha menentukan cara mencatatnya
Kalau usaha Anda berbentuk PT dan Anda bekerja sebagai direktur, gaji Anda adalah biaya gaji perusahaan, sama seperti karyawan lain, dan ada kewajiban pajak penghasilan yang menyertainya. Laba yang tersisa hanya bisa Anda ambil lewat pembagian dividen.
Kalau usaha Anda perorangan, secara pajak uang yang Anda ambil untuk diri sendiri bukan biaya usaha, berapa pun namanya. Tetap ada gunanya menetapkan gaji tetap untuk keperluan perencanaan kas dan menilai laba yang sebenarnya, tapi di laporan keuangan uang itu dicatat sebagai pengambilan pemilik.
Perlakuan pajaknya juga berbeda, jadi tanyakan dulu ke orang yang memahami pembukuan dan pajak usaha Anda sebelum menetapkan cara pencatatannya.
Tinjau setahun sekali
Gaji pemilik tidak harus tetap selamanya. Setahun sekali, lihat lagi rata-rata laba dan harga pasar untuk pekerjaan Anda. Kalau usaha tumbuh dan Anda sudah menggaji manajer untuk sebagian tugas Anda, sesuaikan gaji Anda dengan tugas yang masih Anda kerjakan.
Naikkan gaji saat laba sudah stabil di level yang lebih tinggi, bukan setelah satu bulan yang bagus.