Harga & tagihan 3 menit baca
Termin Pembayaran yang Sehat untuk Usaha Kecil
Cara memilih termin pembayaran untuk pelanggan dengan melihat kapan uang Anda keluar dan kapan uang pelanggan masuk.
Pelanggan bisa membayar tunai saat barang diambil, 30 hari setelah faktur, atau uang muka dulu lalu pelunasan belakangan. Kesepakatan soal kapan pelanggan membayar ini disebut termin pembayaran. Banyak usaha memilihnya asal ikut kebiasaan pasar. Termin yang salah bisa membuat usaha yang untung tetap kehabisan uang.
Termin menentukan siapa yang menanggung modal
Setiap kali Anda memberi tempo, Anda sedang meminjamkan uang ke pelanggan. Barangnya sudah Anda beli, ongkos kerjanya sudah Anda bayar, dan uangnya baru kembali beberapa minggu kemudian. Selama itu, kas Anda yang menutupi.
Repotnya mulai terasa ketika tempo yang Anda berikan lebih panjang dari tempo yang Anda terima. Kalau supplier minta dibayar dalam 7 hari tapi pelanggan Anda baru membayar setelah 30 hari, ada jeda sekitar tiga minggu yang harus ditutup dari kantong sendiri. Makin besar penjualan, makin besar uang yang tertahan. Ini alasan usaha yang sedang ramai pesanan justru sering paling sesak kasnya.
Contoh: konveksi kecil dengan pesanan besar
Sebuah konveksi kecil menerima pesanan 500 kaos seragam senilai Rp 40.000.000. Bahan harus dibayar tunai di depan sebesar Rp 18.000.000. Upah jahit Rp 8.000.000 dibayar mingguan selama pengerjaan. Pesanan selesai dalam tiga minggu.
Kalau konveksi itu menerima termin 30 hari setelah barang dikirim, pemiliknya harus menyediakan Rp 26.000.000 dari kas sendiri dan menunggu sekitar tujuh minggu sampai uangnya kembali. Selama itu ia mungkin tidak sanggup menerima pesanan lain.
Kalau termin yang disepakati uang muka 50% dan pelunasan saat barang diambil, ceritanya lain. Uang muka Rp 20.000.000 sudah cukup untuk membayar bahan, dan masih tersisa Rp 2.000.000 untuk upah minggu pertama. Sisa upah Rp 6.000.000 ditanggung sebentar sampai pelunasan Rp 20.000.000 masuk. Pesanan dan untungnya sama, tapi yang harus ditalangi tinggal Rp 6.000.000 untuk waktu singkat, bukan Rp 26.000.000 selama tujuh minggu.
Pilihan termin dan kapan cocok dipakai
| Termin | Cocok untuk |
|---|---|
| Tunai atau bayar di depan | Pelanggan baru, pesanan kecil, penjualan eceran |
| Uang muka lalu pelunasan | Pesanan khusus, proyek, barang yang dibuat sesuai pesanan |
| Tempo 14 atau 30 hari | Pelanggan tetap dengan riwayat bayar yang baik |
| Bertahap sesuai kemajuan kerja | Proyek panjang dengan beberapa tahap serah terima |
Satu pelanggan bisa pindah baris di tabel ini seiring waktu. Pelanggan baru belum punya riwayat, jadi wajar kalau Anda minta bayar di depan atau uang muka dulu. Tempo bisa diberikan belakangan setelah mereka beberapa kali membayar tepat waktu.
Kebiasaan yang menjaga termin tetap sehat
Mulai dari termin supplier Anda sendiri. Tulis berapa hari tempo yang Anda dapat dari setiap supplier utama, karena angka itu batas atas yang aman sebelum Anda memberi tempo ke pelanggan. Kalau ingin memberi tempo lebih panjang dari itu, pastikan kas Anda memang cukup menanggung jedanya.
Tulis termin di penawaran harga dan di faktur. Termin yang hanya disepakati secara lisan mudah dilupakan, atau ditafsirkan berbeda oleh pelanggan.
Jangan memberi tempo yang sama ke semua pelanggan hanya karena lebih praktis. Pelanggan yang sering telat tidak perlu mendapat tempo sepanjang pelanggan yang selalu tepat waktu.
Pertimbangkan potongan kecil untuk pembayaran cepat, tapi hitung dulu. Potongan 2% untuk pelanggan yang membayar dalam 7 hari terdengar kecil. Kalau margin Anda hanya 15%, potongan itu memakan lebih dari sepersepuluh keuntungan dari penjualan tersebut. Potongan seperti ini masuk akal hanya kalau kas memang sedang sangat dibutuhkan.
Tinjau ulang termin setiap beberapa bulan. Termin yang cocok saat penjualan Rp 50.000.000 per bulan belum tentu masih cocok saat penjualan sudah tiga kali lipat, karena uang yang tertahan di piutang ikut membesar tiga kali lipat juga.