Arus kas 3 menit baca
Rasio Keuangan Sederhana yang Benar-benar Berguna
Empat rasio keuangan yang bisa dihitung pemilik usaha kecil sendiri, apa artinya, dan kapan angkanya patut dicemaskan.
Ada puluhan rasio keuangan di buku teks. Untuk usaha kecil, empat saja sudah cukup. Keempatnya menjawab apakah usaha Anda untung, dan apakah uangnya cukup untuk membayar tagihan bulan depan.
Semua contoh di bawah memakai angka satu bulan dari toko bahan kue yang sama, supaya Anda bisa melihat bagaimana angkanya saling terkait.
Margin laba kotor
Margin laba kotor menunjukkan berapa yang tersisa dari setiap penjualan setelah dikurangi harga pokok barang yang terjual.
Toko bahan kue ini menjual Rp 100.000.000 dalam sebulan. Harga pokok barang yang terjual Rp 75.000.000. Laba kotornya Rp 25.000.000, jadi margin laba kotornya 25%.
Angka ini paling berguna kalau dibandingkan dari bulan ke bulan. Kalau margin turun dari 25% ke 21% padahal harga jual tidak berubah, berarti harga beli dari pemasok naik dan belum Anda teruskan ke pelanggan. Bisa juga karena diskon terlalu banyak, atau ada barang yang hilang dan rusak.
Hitung juga per kelompok produk kalau bisa. Sering ternyata ada satu kelompok barang yang laris tapi marginnya tipis sekali.
Margin laba bersih
Setelah laba kotor, kurangi semua biaya operasional: gaji, sewa, listrik, ongkos kirim, biaya marketplace, dan lainnya. Misalnya totalnya Rp 17.000.000. Laba bersihnya Rp 8.000.000, atau 8% dari penjualan.
Dari margin bersih, Anda tahu seberapa besar ruang Anda kalau ada kejutan. Usaha dengan margin bersih 8% akan rugi kalau biaya naik sedikit lebih dari 8% dari penjualan. Usaha dengan margin 2% hampir tidak punya ruang sama sekali.
Gaji untuk Anda sendiri juga harus ikut dihitung sebagai biaya di sini. Kalau tidak, laba bersih terlihat lebih besar dari kenyataannya.
Rasio lancar
Rasio lancar membandingkan aset yang bisa jadi uang dalam waktu dekat dengan utang yang harus dibayar dalam waktu dekat.
Di akhir bulan, toko ini punya kas Rp 30.000.000, piutang dari pelanggan Rp 20.000.000, dan stok Rp 50.000.000. Totalnya Rp 100.000.000. Utang ke pemasok dan tagihan lain yang jatuh tempo dalam beberapa bulan ke depan Rp 60.000.000. Rasio lancarnya 100 dibagi 60, sekitar 1,67.
Angka di atas 1 berarti, di atas kertas, aset lancar cukup untuk menutup utang lancar. Isinya tetap perlu dilihat. Separuh aset lancar toko ini adalah stok, dan stok tidak bisa dipakai bayar pemasok sampai terjual. Kalau stoknya lambat laku, rasio 1,67 bisa memberi rasa aman yang palsu.
Berapa lama pelanggan membayar
Kalau Anda menjual dengan tempo, hitung berapa hari rata-rata uang Anda tertahan di pelanggan.
Toko ini menjual Rp 40.000.000 per bulan secara kredit ke toko kue dan katering. Piutang yang belum dibayar di akhir bulan Rp 20.000.000. Piutang itu setara dengan setengah bulan penjualan kredit, kira-kira 15 hari.
Bandingkan dengan tempo yang Anda berikan. Kalau Anda memberi tempo 14 hari dan hasilnya 15 hari, pelanggan membayar hampir tepat waktu. Kalau hasilnya naik ke 30 atau 40 hari, ada pelanggan yang menunda, dan kas Anda yang menanggungnya.
Cara memakai rasio-rasio ini
Satu angka dari satu bulan tidak banyak artinya. Rasio jadi berguna saat Anda melihat arahnya selama beberapa bulan. Margin yang turun pelan-pelan tiga bulan berturut-turut lebih patut dicemaskan daripada satu bulan yang jelek.
Rasio juga tidak bisa lebih benar dari catatan yang dipakai untuk menghitungnya. Margin 25% dari catatan yang bolong bisa saja sebenarnya 18%, kalau penjualan, biaya, dan stok tidak dicatat lengkap setiap bulan.
Mulailah dari satu rasio yang paling dekat dengan masalah Anda sekarang. Kalau Anda sering merasa sibuk tapi tidak ada uang, mulai dari lama pembayaran pelanggan. Kalau Anda ragu harga jual sudah benar, mulai dari margin laba kotor.