Lompat ke konten utama
Kanafin Chat via WhatsApp
Semua artikel

Harga & tagihan 3 menit baca

Menentukan Harga Jual: Markup vs Margin

Beda markup dan margin, kenapa keduanya sering tertukar, dan bagaimana kesalahan itu membuat untung Anda lebih kecil dari perkiraan.

Markup dan margin sama-sama ditulis dalam persen dan sama-sama soal untung, jadi wajar kalau banyak pemilik usaha menganggapnya sama. Angkanya berbeda. Kalau keduanya tertukar, harga jual Anda bisa lebih rendah dari yang Anda kira.

Beda dasarnya ada di angka pembagi

Markup dihitung dari harga modal. Margin dihitung dari harga jual.

Contohnya sebuah barang dengan harga modal Rp 100.000. Anda menambahkan markup 30%, jadi harga jualnya Rp 130.000. Untung per barang Rp 30.000.

Sekarang bandingkan Rp 30.000 itu dengan harga jual Rp 130.000. Hasilnya sekitar 23%. Untungnya tetap Rp 30.000, hanya pembaginya yang lain, jadi markup 30% berakhir sebagai margin sekitar 23%.

Makin tinggi persennya, makin lebar jaraknya.

MarkupMargin
25%20%
30%sekitar 23%
50%sekitar 33%
100%50%

Markup 100% artinya harga jual dua kali harga modal. Marginnya hanya 50%, karena separuh harga jual kembali untuk menutup modal.

Kenapa kesalahan ini mahal

Masalahnya biasanya muncul seperti ini. Pemilik usaha tahu bahwa ia butuh margin 30% supaya usahanya sehat. Lalu ia menambahkan 30% ke harga modal dan merasa sudah aman. Hasilnya margin sekitar 23%, kurang tujuh poin dari target.

Tujuh poin terdengar kecil. Tapi margin kotor itu masih harus membayar sewa, gaji, listrik, iklan, dan biaya lain. Misalkan biaya-biaya itu memakan 20% dari penjualan. Dengan margin 30%, masih tersisa 10% sebagai laba. Dengan margin 23%, tinggal 3%. Laba Anda turun lebih dari dua pertiga hanya karena salah memakai rumus.

Kalau target Anda margin 30%, harga jualnya dihitung dengan membagi harga modal dengan 70% (yaitu 100% dikurangi 30%). Untuk modal Rp 100.000, harga jualnya sekitar Rp 142.900. Untung per barang sekitar Rp 42.900, dan itu kira-kira 30% dari harga jual.

Harga modal harus lengkap dulu

Hitungan markup dan margin hanya sebagus angka harga modalnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah memakai harga beli di nota supplier saja.

Ambil contoh penjual baju di marketplace. Harga beli kaos dari konveksi Rp 55.000. Ongkos kirim dari konveksi ke gudang, kalau dibagi per kaos, Rp 3.000. Plastik dan label Rp 2.000. Harga modal yang sebenarnya Rp 60.000, bukan Rp 55.000.

Lalu ada potongan dari marketplace yang dihitung dari harga jual. Besarnya berbeda per platform dan kategori, dan bisa berubah. Anggap saja totalnya 10%. Kalau kaos itu dijual Rp 100.000, potongannya Rp 10.000. Uang yang tersisa setelah modal dan potongan adalah Rp 30.000, atau 30% dari harga jual.

Penjual yang menghitung dari harga beli Rp 55.000 dan tidak memperhitungkan potongan marketplace akan mengira untungnya Rp 45.000 per kaos. Yang benar Rp 30.000. Selisih Rp 15.000 per kaos itu, kalau terjual 400 kaos sebulan, berarti Rp 6.000.000 laba yang sebenarnya tidak pernah ada.

Kebiasaan sederhana saat menentukan harga

Pasang target dalam bentuk margin. Biaya operasional juga biasanya dilihat sebagai persen dari penjualan, jadi keduanya bisa langsung dibandingkan.

Harga modal per barang sebaiknya selengkap mungkin, termasuk ongkos kirim pembelian dan kemasan. Hitung juga terpisah per kanal, karena barang yang sama bisa punya margin lain di toko fisik, di marketplace, dan di pesanan grosir.

Lalu periksa ulang harga setiap kali harga beli dari supplier naik. Kenaikan modal Rp 5.000 yang tidak diteruskan ke harga jual langsung mengurangi untung Rp 5.000 per barang, dan biasanya baru ketahuan berbulan-bulan kemudian.

Anda urus usahanya, kami urus pembukuannya

Mulai dari Rp 2 juta per bulan, kontrak bulanan.

Chat via WhatsApp