Lompat ke konten utama
Kanafin Chat via WhatsApp
Semua artikel

Arus kas 3 menit baca

Mengatur Kas Menjelang Ramadan, Lebaran, dan Akhir Tahun

Kenapa musim ramai justru sering bikin kas seret, dan cara menyiapkan uang untuk stok, THR, dan bulan sepi sesudahnya.

Musim ramai terlihat seperti waktu paling aman untuk kas. Penjualan naik, pesanan banyak. Tapi justru di sekitar Ramadan, Lebaran, dan akhir tahun banyak usaha kecil kekurangan uang, karena pengeluaran besar datang lebih dulu daripada pemasukannya.

Uang keluar duluan, uang masuk belakangan

Ambil contoh penjual baju muslim di marketplace. Di bulan biasa, ia belanja stok sekitar Rp 40.000.000. Untuk Ramadan, ia perlu stok tiga kali lipat, sekitar Rp 120.000.000, dan stok itu harus sudah dibeli satu sampai dua bulan sebelum Ramadan supaya sempat difoto dan diunggah.

Penjualannya baru ramai di pertengahan Ramadan. Dana dari marketplace juga tidak langsung cair, ada jeda beberapa hari sampai pesanan selesai. Jadi selama kurang lebih dua bulan, Rp 80.000.000 tambahan sudah keluar sementara hasilnya belum masuk.

Kalau kebutuhan ini tidak disiapkan, pilihannya tidak enak. Pemilik membeli stok lebih sedikit dan kehilangan penjualan, atau meminjam mendadak dengan bunga mahal.

THR datang di saat kas paling tipis

Pengusaha wajib membayar THR keagamaan kepada karyawan, paling lambat tujuh hari sebelum hari raya. Untuk karyawan yang sudah bekerja setahun atau lebih, besarnya satu bulan upah. Karyawan yang masa kerjanya lebih pendek mendapat bagian yang sebanding dengan lama kerjanya.

Waktunya sering bertabrakan dengan kebutuhan stok. Toko dengan empat karyawan bergaji Rp 4.500.000 perlu menyiapkan Rp 18.000.000 untuk THR, tepat di minggu-minggu ketika uangnya banyak tertahan di persediaan.

Cara paling sederhana adalah menyisihkan THR sedikit demi sedikit sepanjang tahun. Rp 18.000.000 dibagi dua belas bulan adalah Rp 1.500.000 per bulan. Pindahkan jumlah itu ke rekening terpisah setiap kali gaji dibayar. Saat Lebaran datang, uangnya sudah ada.

Bulan sepi setelah musim ramai

Banyak usaha yang menyiapkan Ramadan dengan baik tapi lupa menyiapkan Syawal. Setelah Lebaran, belanja orang turun, sebagian karyawan cuti, dan pelanggan bisnis baru aktif lagi seminggu atau dua minggu kemudian. Sementara itu sewa dan gaji tetap jalan.

Akhir tahun mirip. Desember ramai untuk usaha ritel dan kue, tapi Januari biasanya lebih pelan. Untuk usaha yang melayani perusahaan, pola bisa terbalik: Desember sepi karena klien libur, dan pembayaran tertunda sampai awal tahun.

Jadi jangan langsung habiskan keuntungan musim ramai. Tahan sebagian, cukup untuk menutup biaya tetap satu atau dua bulan sesudahnya.

Rencana kas sederhana per minggu

Untuk musim ramai, rencana bulanan terlalu kasar. Uang bisa cukup di akhir bulan tapi kurang di minggu kedua. Buat perkiraan per minggu, mulai dua bulan sebelum musim ramai sampai satu bulan sesudahnya.

Isinya cukup tiga baris per minggu: perkiraan uang masuk, perkiraan uang keluar, dan saldo akhir minggu. Masukkan semua pengeluaran besar yang sudah pasti, seperti pembayaran stok, THR, sewa, dan cicilan, di minggu jatuh temponya.

Kalau ada minggu yang saldonya minus, Anda sudah tahu dari jauh hari. Masih ada waktu untuk bernegosiasi:

  • Minta pemasok membagi pembayaran stok jadi dua atau tiga kali.
  • Tawarkan pre-order dengan uang muka kepada pelanggan tetap, supaya sebagian uang masuk sebelum stok dibeli.
  • Ajukan fasilitas modal kerja ke bank beberapa bulan sebelumnya, bukan di minggu yang sama saat butuh.
  • Tunda pengeluaran yang bisa menunggu, seperti renovasi atau pembelian peralatan, sampai setelah musim ramai.

Setelah musim selesai, bandingkan rencana dengan kenyataannya. Berapa stok yang tersisa? Minggu mana yang paling ketat? Pola musiman di usaha yang sama cenderung berulang, jadi catatan ini akan sangat membantu saat menyusun perkiraan tahun depan.

Anda urus usahanya, kami urus pembukuannya

Mulai dari Rp 2 juta per bulan, kontrak bulanan.

Chat via WhatsApp