Dasar pembukuan 4 menit baca
Neraca untuk Orang yang Benci Angka
Cara membaca neraca usaha Anda tanpa latar belakang akuntansi, dengan satu contoh toko bahan kue.
Neraca adalah daftar dari dua hal pada satu tanggal: apa saja yang dimiliki usaha Anda, dan siapa yang membiayainya. Kalau laporan laba rugi seperti rekaman video satu bulan, neraca seperti foto yang diambil di hari terakhir bulan itu.
Dua sisi yang selalu sama besar
Sisi pertama berisi aset, yaitu semua yang dimiliki usaha dan punya nilai uang. Saldo bank, uang tunai di laci, tagihan ke pelanggan yang belum dibayar, stok barang, dan peralatan seperti oven atau mobil pengiriman.
Sisi kedua menjawab dari mana aset itu dibiayai. Ada dua sumber. Yang pertama uang dari pihak lain yang harus dikembalikan, misalnya tagihan supplier yang belum dibayar atau pinjaman bank. Ini disebut kewajiban. Yang kedua uang milik pemilik, yaitu modal yang Anda setor ditambah laba yang Anda biarkan tetap di usaha. Ini disebut ekuitas.
Karena setiap aset pasti dibiayai oleh salah satu dari dua sumber itu, kedua sisi selalu sama besar. Aset sama dengan kewajiban ditambah ekuitas.
Contoh dari sebuah toko bahan kue
Ini neraca sebuah toko bahan kue per 31 Mei.
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| Kas dan bank | Rp 45.000.000 |
| Tagihan ke pelanggan | Rp 12.000.000 |
| Stok barang | Rp 38.000.000 |
| Peralatan, setelah penyusutan | Rp 55.000.000 |
| Total aset | Rp 150.000.000 |
| Utang ke supplier | Rp 20.000.000 |
| Pinjaman bank | Rp 40.000.000 |
| Total kewajiban | Rp 60.000.000 |
| Modal yang disetor pemilik | Rp 50.000.000 |
| Laba yang ditahan di usaha | Rp 40.000.000 |
| Total ekuitas | Rp 90.000.000 |
| Total kewajiban dan ekuitas | Rp 150.000.000 |
Dari tabel ini, toko memiliki barang dan uang senilai Rp 150.000.000. Sebanyak Rp 60.000.000 dibiayai pihak lain dan suatu saat harus dibayar. Sisanya, Rp 90.000.000, adalah bagian pemilik.
Bagian pemilik itu tidak sama dengan uang yang bisa Anda ambil hari ini. Sebagian besar sedang berbentuk stok dan peralatan. Kas yang tersedia hanya Rp 45.000.000, dan Rp 20.000.000 di antaranya harus dipakai untuk membayar supplier.
Tiga pertanyaan untuk dibaca setiap bulan
Anda tidak perlu membaca setiap baris. Ada tiga hal yang cukup Anda cek.
Yang pertama, cukup atau tidak uang yang segera tersedia untuk membayar kewajiban yang segera jatuh tempo. Bandingkan kas ditambah tagihan ke pelanggan dengan utang supplier dan cicilan pinjaman dalam beberapa bulan ke depan. Di contoh tadi, Rp 57.000.000 berhadapan dengan Rp 20.000.000 utang supplier ditambah cicilan bank, jadi posisinya aman.
Lalu lihat stok dan tagihan ke pelanggan. Kalau dari bulan ke bulan stok naik lebih cepat dari penjualan, uang Anda tertahan di gudang. Kalau tagihan ke pelanggan naik terus, uang Anda tertahan di tangan pelanggan. Keduanya tidak terlihat di laporan laba rugi.
Terakhir, lihat apakah ekuitas tumbuh. Laba menambah ekuitas. Uang yang Anda ambil untuk keperluan pribadi menguranginya. Kalau setiap tahun usaha untung tapi ekuitas tidak bertambah, berarti seluruh laba sudah Anda tarik keluar. Itu boleh saja, asal Anda sadar dan usahanya masih cukup modal untuk berjalan.
Hal penting yang hanya terlihat di neraca
Banyak pemilik usaha hanya melihat laba rugi, karena laporan itu menjawab pertanyaan “untung atau tidak”. Utang yang menumpuk, stok mati yang tidak pernah terjual, dan uang usaha yang dipinjam pemilik lalu belum dikembalikan tidak muncul di sana. Semuanya ada di neraca.
Bank juga membaca neraca lebih dulu saat Anda mengajukan pinjaman. Mereka ingin tahu seberapa besar bagian pemilik dibandingkan utang, dan apakah usaha mampu membayar kewajibannya.
Neraca yang benar hanya bisa keluar dari pembukuan yang lengkap. Saldo bank di neraca harus sama dengan rekening koran, stok harus sesuai dengan yang ada di gudang, dan utang harus cocok dengan tagihan supplier. Pencocokan ini pekerjaan rutin setiap bulan. Bagian Anda sebagai pemilik adalah membaca hasilnya dan bertanya kalau ada angka yang terasa janggal.